Morfem : Album Baru

12 Oct

Morfem : Sebuah Album Baru

Kira-kira pertengahan 2011 saya diajak oleh seorang teman untuk menjadi operator di FOH disebuah festival rock di Senayan, Jakarta. Sebelumnya beberapa minggu sebelumnya saya sudah melihat band itu tampil disebuah acara di bilangan selatan Jakarta. Pada kesempatan itu saya merasakan suasana liar dan penuh energi di setiap lagu yang mereka tampilkan. Dan saya tidak mensiasiakan kesempatan untuk menjadi operator FOH bagi mereka ketika kesempatan itu datang.

Ketika check sound, datanglah seseorang untuk mendengarkan bagaimana hasil dari keseluruhan mixing di FOH, lalu sedikit berbincang dan kami saling berkenalan, mungkin lebih tepat saya yang memperkenalkan diri karena saya sudah mengenal dia diberbagai media selama saya berkecimpung didunia audio.

Sampai kesebuah kesempatan ternyata seseorang merekomendasikan hasil kerja saya pada orang tersebut, kami bertemu secara langsung untuk membahas sebuah rencana dan program untuk membuat sebuah album. Dan tidak butuh waktu lama untuk memulai project bersama Jimi, Pandu, Freddy dan Bram yang pada akhirnya digantikan oleh Yanu.

Project album ini keseleuruhan dikerjakan di Almos Studio Kalibata, sejujurnya saya cukup merasa tertantang saat itu karena banyak sekali detail suara yang coba digambarkan oleh Morfem untuk album terbaru mereka, diskusi demi diskusi harus dilalui karena ada sedikit ekspektasi untuk sesuatu yang berbeda di album ini. Terlebih lagi ini jenis musik yang saya baru pertama kali untuk menangani secara langsung.

Ketika guide selesai, kami mulai unuk take drum. Dengan memakai total 12 channel untuk track drum. Kami melakukan beberapa percobaan untuk mendapatkan hasil yang ingin kami harapkan. Seperti membuka kulit luar dari bass drum 22 inch di almos untuk menghasilkan suara drum yang lebih “jorok” tapi tetap bertenaga untuk sebuah lagu rock bertempo cukup tinggi (umumnya drum seperti itu cocok untuk untuk lagu bertempo rendah karena attack dari bass drum cenderung  lambat, akibatnya saya cukup lama untuk mencari posisi mic yang sesuai dan melakukan sedikit EQ di pre-amp untuk mendapatkan attack bass drum yang baik). Untuk snare saya melakukan miking dgn Sennheiser e906 untuk mendapatkan suara yang lebih mid low dan mengurangi bocoran suara hi-hat sehingga suara lebih sedikit, karena freddy cenderung lebih agresif dalam memainkan hi-hatnya. Sayapun melakukan kompresi dgn high attack dan medium release dengan ratio 3,5 : 1.Dengan memaksimalkan mic room melalui Neumann TLM, saya mendapatkan kesan “kotor” dari sound drum. Ini yang membuat suara drum terdengar lebih bernafas.

Awalnya bass yang direkam adalah bass dry agak sedikit twangy sampai ketika mendekati akhir project hampir seluruh bass kami rubah dengan menggunakan Ampeg SVT 4 Pro sebagai head-amp dengan menggunakan sedikit Fuzz efek. Dan ternyata suara bass seperti ini membuat musik menjadi lebih penuh karena bass mampu mengisi kekosongan dengan fuzz yang kasar sehingga suara gitar tidak terlalu bising pada proses mixing lagu nantinya.

Dengan melakukan sedikit cut frekuensi di 160hz-400hz suara bass terdengar gemuk dengan lebih mengedepankan frekuensi rendah sebagai sumber tenaga dan mid-high sebagai attack bass dan warna kasar atau kotor dari suara bass yang menjadi ciri dari Morfem. Sedikit EQ di frekuensi 3khz membuat tone efek fuzz menjadi sedikit menonjol. Kami menggunakan Direct Out dari Ampeg SVT dan miking dengan AKG D-112 pada cabinet untuk merekam suara bass ini.

Pengambilan suara gitar adalah sesuatu hal yang cukup tricky, karena harus terdengar kasar, bertenaga namun nada yang dimainkan harus juga terdengar sanga jelas. Awalnya kami memutuskan untuk menggunakan 2 mic untuk setiap pengambilan suara, namun setalah berbagai macam percobaan akhirnya kami mengambil cukup dengan 1 mic saja untuk tiap pengisiaan gitar, dimana basic rhythm gitar nanti akan di layer dengan menggunakan beberapa gitar dan efek yang berbeda sehingga suara yang dapat dihasilkan secara keseluruhan terdengar loud and proud.

Kami menggunakan amp Orange rockverb dengan 4×10 cabinet sebagai sumber suara yang diterjemahkan melalui Sennheiser e906 sebagai untuk mengambil suara. Kami memilih speaker kanan atas yang kami miking dan menempakan mic sedikit kekanan dari tweeter speaker agar suara yang dihasilkan tidak terlalu besar frekuensi high nya, sesuai dengan frekuensi response dari mic sennheiser e906 (untuk catatan bahwa sennheiser e906 akan menghasilkan suara cenderung high jika di tempatkan di sisi kiri dari tweeter speaker dan suara agak sedikit high jika ditempatkan di sisi kanan).

Tidak lupa saya memasang compressor saat take gitar hal ini saya lakukan untuk menjaga power agar selalu terjaga dengan baik dan tidak peak saat sang gitaris melakukan scratch gitar ataupun permainan urakan lainnya (in postive way off course).

Dengan menggunakan beberapa gitar tapi masih dengan suara dasar beraroma fuzz, kami mencoba menghasilkan suara gitar yang padat. Satu gitar di tempatkan di kiri, satu gitar dikanan dan satu lagi berada di tengah. Saya mencoba agar tidak terjadi benturan phase suara dengan melakukan sedikit EQ dari amplifier agar suara dari tiap gitar tidak terlalu serupa. Hal ini sangat sulit mengingat Pandu si pemain gitar, harus berupaya untuk melakukan beberapa take untuk sebuah lagu baik itu basic rhythm maupun untuk fill.

Jimi sang vocalist cenderung mempunyai tekanan suara rendah disaat bernyanyi dengan intensitas normal, tapi sangat besar saat melakukan shout (teriakan) sehingga jarak antara mic dengan bibir penyanyi harus terjaga dengan konstan. Selain itu saya harus mengambil gain cukup besar dan melakukan kompresi agar pada saat beliau berteriak tetap pada level suara yang optimum, pada akhirnya gain keseluruhan suara vocal dapat terjaga dengan konstan dan mampu berada di posisi frekuensi dan level yang pas dan menyatu dengan instrument lain.

Berikut ini adalah channel list untuk instrument yang kami gunakan selama recording yang juga disertai dengan microphone yang digunakan.

  1. Kick In ( AKG D-112 )
  2. Kick Out ( AKG D-40 )
  3. Snare Top ( Sennheiser e906 )
  4. Snare Botom ( Shure SM57 )
  5. Hi-Hat ( Shure SM81 )
  6. Tom ( AKG D-40 )
  7. Floor ( AKG D-40 )
  8. Ride ( Shure SM81 )
  9. Overhead ( AKG C-1000 )
  10. Overhead ( AKG C-1000 )
  11. Room 1 ( Neumann TLM )
  12. Room 2 ( Sennheiser e906 )
  13. Bass Direct Out Ampeg SVT 4 Pro
  14. Bass Mic ( AKG D-112 )
  15. Guitar Mic for Orange ( Sennheiser e906 )
  16. Vocals ( Neumann TLM )

Proccessor :

  1. Presonus Studio Live 16.4.2
  2. TC Electonic Finalizer Express
  3. Portico 5012 Pre Amp
  4. Chameleon Labs Compressor 7802 dn 7720
  5. ART Voice Channel

Pada proses mixing saya tidak banyak melakukan proses treatment post production, karena kami menganggap suara tiap instrument sudah berada pada level yang kami harapkan. Saya hanya melakukan sedikit kompresi di Kick, Snare dan Vocal. Saya juga memberikan efek vitalizer untuk memberikan sedikit tone dan tenaga pada vocal agar mampu terdengar dengan baik tapi juga tidak melebihi instrument lain. Proses mixing sebenarnya berjalan cukup lancar dan cepat. Hanya sedikit terjadi perubahan ketika kami harus merubah suara bass pada pertengahan proses.

Kecenderungan yang saya lakukan adalah menjaga suara keseluruhan dari lagu untuk tetap berisik dan terasa kasar tanpa harus membuat telinga pendengar cepat lelah. Kami harus menghabiskan hampir 30 jam di ruang mixing untuk mendapatkan porsi mixing yang sesuaidari sudut pandang musisi dan engineer. Saya juga harus berhati-hati dengan suara gitar yang mengandung fuzz karena jika tidak di racik dengan teliti kemungkinan akan terdengar seperti out of phase dan merusak lagu secara keseluruhan.

Melakukan summing di frekuensi rendah agar membuat lagu tetap bertenaga dengan menggunakan plug-ins Rbass sangat membantu untuk menambah energi terutama yang berasal dari pukulan drum.

Project ini berjalan dengan menyenangkan karena kita bisa saling berbagai satu sama lain untuk menghasilkan sebuah karya. Kami mencoba membatasi dan juga mengkreasi dengan baik agar memenuhi harapan dari sisi musisi maupun sisi engineer dan tentu juga kam harapkan oleh pendengar. Saat istirahat di warteg sebelah menjadi saat untuk berbagi cerita dan harapan di masa yang akan datang.

Silakan tunggu album Morfem yang telah kami kerjakan sejak October 2011 lalu. selamat mendengarkan.

 

Thanks untuk Jimi, Pandu, Freddy dan Yanu yang sudah mempercayakan saya untuk bekerja sama dalam project ini.

Tidak lupa kepada Moko, Yumir dan Andi dari brotherland / big knob yang sudah meminjamkan Chameleon Labs dan Portico demo nya yang sangat membantu dalam beberapa proses rekaman.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: