the trees and the wild – irish girl : recording phase: sederhana

22 Aug

sekitar tahun 2008, saya terlibat dalam sebuah project bersama sebuah band bernama the trees and the wild. dan pada bulan oktober mereka akan mencoba merekam sebuah lagu untuk dimasukan dalam album mereka yang pada akhirnya bernama RASUK.

mungkin ini adalah salah satu dimana salah satu hasil kerja tim yang melibatkan saya di dalamnya pernah terdengarkan oleh banyak orang.

project tersebut dikerjakan di sebuah studio rumahan yang sangat sederhana berletak di daerah jatiasih bekasi yang bernama vikis studio dimana saya in-house dari tahun 2007 sampai 2010 lalu.

pengerjaan di mulai dengan salah seorang personil dari the trees and the wild (ttatw) remedy waloni (acoustic guitar, vocal, synth) mulai membuat guide dengan sebuah gitar akustik merek Alvarez. tak ada yang istimewa dari proses ini selain saya hanya men-direct gitar dari pick-up ke sebuah d.i bos behringer gain. dan merekam langsung kedalam sebuah PC-based DAW dengan echo audiofire 12 sebagai interface.

drum dan Perkusi

ritme dasar dari lagu ini terdiri dari drum dan beberapa perangkat perkusi seperti floor-tom section dan snare percussion. untuk drum saat itu hanya tersedia sebuah drum mapex pro-m series dengan 3 piece tom-rack dan 20″ floor-tom yang di mainkan oleh herti nur pamungkas (santa monica, whisper desire).

karena drum lebih ber-emphasis kepada bass drum maka kami melakukan tuning agak bass drum terdengar sangat baik namun tidak terlalu in your face. kami sedkit mengendurkan kulit drum, terutama di bagian dalam yang terkena beater drum. saya menggunakan mic akg D-112 untuk kick in dan shure sm-57 untuk berharap bisa mendapatkan ekstra suar klik dari beater pedal drum.

jika di perhatikan di dalam lagu ada suara tipis snare, namun itu di rekam secara terpisah. jadi ketika ritme dasar drum di rekam saya hanya mengambil suara dari kick (in dan out) dan overhead untuk cymbal saja.

pada bagian dari akhir lagu, terdapat banyak part yang mengandalkan suara perkusi. sebenarnya part ini di rekam setelah semua instrument lain masuk. dalam pengerjaan sebenarnya tak jauh berbeda dengan konsep rekaman live. yang perlu saya lakukan adalah mengatur posisi mic agar tidak terlalu banyak bocoran dari instrumen lain masuk kedalam channel suara yang di fokuskan.

untuk snare saya menggunakan shure sm-57, floor-tom section sebanyak 3 piece saya menggunakan mic sennheiser e604 yang memang diperuntukan bagi tom atau floor. saya juga merekam suara chime dan perkusi lainnya menggunakan sm-57,  samson c01 dan shure sm-81 untuk instumen ber-frekuensi tinggi. selain itu saya juga menempatkan rode K2 mic dan menjadikan sebagai mix berpolar pattern figure 8 dan saya tempatkan di tengah ruangan agar mendapatkan sedikit nuansa reverb keseluruhan dari keseluruhan seksi perkusi ini. pada akhirnya saya menggunakan 12 channel dari echo audiofire saya (semua channel terpakai). saya harus berhati-hati dalam mengangkat gain yang saya harapkan dan selalu melakukan penyesuaian pada setiap part dalam pengambilan perkusi ini. sampai terkadang saya harus bolak balik melihat ke mackie onyx console dan layar DAW saya untuk bisa mengontrol gain yang masuk dengan baik. butuh konsentrasi ekstra untuk hal ini, namun syukur semuanya bisa dilakukan dengan baik dan cepat. ada satu hal lagi yang sebenarnya merepotkan adalah melakukan setting monitoring di dalam ruang take akibat berisiknya suara yang dihasilakan dari percussion section ini. pada akhirnya membutuhkan 2 jam untuk melakukan set-up, sound check dan clear out tapi hanya membutuhan 15 menit untuk melakukan rekamannya.🙂

gear talk : echo audiofire 12 yang saya gunakan sebagai audio interface ini sebenarnya merupakan salah satu produk kesukaan saya. input-output latency sangat baik walaupun cuma sampai sample rate 48k saja dan membutuhkan pre-amp, tapi ini merupakan produk yang sangat cocok untuk home recording. sayangnya tidak dilengkapi oleh ADAT connection sehingga tidak mungkin untuk di expand.

andra (bass)

setelah drum selesai akhirnya seperti biasa kita masuk kepada ritme dasar lagu berikutnya yaitu bass (standar lah). andra kurniawan (bass, acoustic gitar) menggunakan bass fender marcus miller berwarna kuning kecoklatan. saya melakukan pengambilan bass menggunakan 4 channel (ambisius… pada akhirnya hanya di pakai 2 channel saja) yaitu direct input via d.i box, amplifier direct output (hartke bass kick 15″), todong menggunakan akg d-112, dan shure sm-57 di tweeter speaker dari amplifier bass combo itu.

pada awal lagu iga massardi ( electric guitar, acoustic guitar) merasa suara bass yang hasilkan oleh gitar bass fender marcus miller itu terlalu panjang sustainnya dan terdengar sangat modern. setelah mencoba segala macam tipu muslihat melalui penggunaan compressor tambahan, equalizer dan lainnya akhirnya tercetus sebuah solusi jenius (berlebihan) dengan menggunakan sebuah “lap” yang biasa digunakan untuk membersihkan gitar yang diletakan di antara pick bass sehingga suara bass menjadi tanpa sustain. well, banyak jalan untuk mencapai roma pada akhirnya.🙂

akustik gitar ( remedy, iga dan andra )

menggunakan dua buah akustik gitar nylon alvarez  (remedy) dan cort steel akustik gitar (andra dan iga) yang saya rekam menggunakan 3 buah microphone yaitu rode k2, shure sm-81 dan shure sm-57.

saya memposisikan mic condenser rode k2 kira-kira berjarak 20 cm dari sound hole dengan harapan saya bisa mendapatkan suara aksutik gitar yang ideal. ternyata saya itu sesuai dengan harapan saya.

dengan menggunakan pre-amp focusrite trakmaster yang sederhana saya merasakan suara gitar di dapatkan cukup solid. mungkin secara tidak sengaja karakter dari focusrite trakmaster yang sedikit kasar malah membuat tone dari gitar akustik menjadi nyata tanpa harus banyak melakukan treatment saat mixing nanti. selain itu trakmaster juga memilik filter dan cut frekuensi yang memudahkan anda membuang suara mendengung dari gitar akustik sampai ke 400hz dan kedalamannya juga bisa di sesuaikan. dengan adanya compressor sederhana dan dengan sebuah “squash” button memudahkan saya membuat suara gitar menjadi lebih “gemuk”. saya beruntung telah membeli pre-amp ini yang ternyata sangat cocok dengan project ini.

untuk shure sm-81 saya memposisikan dekat finger board dari gitar untuk berharap mendapatkan suara resonansi frekuensi yang sedikit high dan juga mendapatkan suara gesekan jari dengan senar saat melakukan perpindahan kunci gitar yang membuat suara terdengar sangat natural. sedangkan shure sm-57 saya letakan diantara neck gitar dan body untuk mencoba mendapatkan suara gitar dari sudut yang berbeda. walau pada tahap mixing hanya lebih mengutamakan suara dari rode k2 dan shure sm-81 saja. dan untuk mengatasi suara tepukan gitar (guitar clapping) saya harus menggunakan sebuah limiter nantinya agara suara tepukan tersebut tidak menyebabkan clip di main mix bus nantinya.

tips:  jangan lupa meletakan sebuah selimut atau bantal di kaki semua player pada saat take akustik, karena player cenderung menghentakkan kaki saat mencoba bermain dengan panduan metronome. dan gunakan earphoe monitor yang sangat kedap suara. beruntung pada saat itu saya telah menggunakan headphoe extreme isloation DS-25 (thanks for @big_knop dan @mokobigbro for importing this product) sehingga saya para player menjadi jauh lebih percaya diri dan nyaman dengan sistem monitor ini.

electric guitar (iga massardi)

untuk pengambilan gitar listrik saya mengandalkan 1 buah shure sm-57 dan 1 buah rode k2. hampir sama seperti gitar akustik saya menggunakan focusrite trakmaster untuk k2 dan pre-amp dari mackie onyx 1604 untuk shure-sm57. untuk shure sm-57 setelah berdiskusi dan melakukan beberapa percobaan akhir saya dan iga sepakat bahwa mic akan diposisikan sekitar sudut 60 derajat dengan jarak kurang lebih 10 cm dari pusat speaker Tech 21 15 inch combo. dan memberi jara dari speaker ke ampli sejauh 2 cm. hal ini dilakukan agar suara gitar lebih berkarakter di frekuensi low dan mid-high. walau nanti saya harus melakukan sedikit treatment pada saat seating frekuensi di tahap mixing.

sedangkan untuk rode k2 saya memposisikan sekitar 30 cm dari ampli sejajar denga posisi head speaker dengan merubah polar pattern menjadi figure 8 agar bisa mendapatkan kesan “roomy” dari suara gitar nantinya. saya tidak melakukan kompresi pada trakmaster pre-amp hanya melakukan low cut dan filter cut di frekuensi sekitar 200hz untuk mengantisipasi suara yang terlalu mendengung nantinya. ketika mixing saya menggunakan source dari mic ini sebagai wet source untuk tambahan efek seperti reverb, delay atau tremolo nantinya.

string section

lagu ini juga mengharuskan saya mengambil suara dari quartet string section yang terdiri dari (cello, 2 viloin dan viola). ini tahap yang sekali lagi cukup menyita banyak waktu untuk set-tp dan sound checking.

untuk cello saya menggunakan 2 microphone yaitu akg d-112 untuk menangkap suara berfrekuensi rendah dan shure sm-57 untuk mengambil suara mid dan high tipis yang di hasilkan dari cello.

sedangkan untuk violin dan viola saya masing-masing menggunakan shure sm-57 dan shure sm-81 sebagai microphone untuk mengambil suara. hal ini saya lakukan karena respond frekuensi di mid-high dari shure sm-57 dan sm-81 jauh lebih baik dari dari mic lain yang saya punya saat itu untuk mengambil suara mid-high dari string section. dan saya juga meneptakan sebuah rode k2 yang berpolar pattern fugure 8 untuk mendapatkan keseluruhan suara dari stering section tersebut dan 2 buah mic condenser behringer b-1 di sudut ruangan untuk mengambil suara ambient dari suasana ruangan saat itu.

yang paling sulit adalah memposisikan mic agar mampu mendapatkan sebuah suara yang diharapakan dari tiap-tiap instument dengan jelas tanpa harus terlalu banyak bocoran. sebenarnya bisa dilakukan rekaman satu persatu namun pertimbangan saat itu adalah atmosfer yang diharapkan akan menjadi kurang baik dan permainan seakan menjadi kurang bernyawa. oleh sebab itu saya harus memposisikan para pemain pada jarak dan sudut yang tepat. dan monitoring harus terorganisir dengan baik. karena sulitnya mengatur frekuensi dari masing-masing alat.

tips: membutuhkan kesabaran yang super ekstra dalam pengerjaan strings. pastikan mic ambient di posisi yang tepat atau waktu kita akan menjadi percuma jika hasil rekaman string ini hanya terdengar seperti suara midi via reason atau VST lainnya jika kita tidak merekam dengan tepat.

vocals (remedy waloni)

untuk take vocal saya kembali mengandalkan rode k2 condenser microphone dengam kembali menggunakan focusrite trakmaster. sedangkan untuk pop filter saya menggunakan shure ps-6. karena saya tidak mempunyai ruang vocal (vocal trap) saya mencoba memposisikan sedekat mungkin remedy dengan sudut ruangan agar suara yang dapatkan dapat terkumpul dan menjadi terdengar solid. gain yang saya ambil juga harus cukup besar karena remedy tidak mempunyai pita suara yang bisa menghasilkan suara cukup tegas ketika bernyanyi. namun saya harus menyalakan compressor ketika memasuki phase akhir dari lagu dimana vocalist akan cenderung lebih terbuka dalam bernyanyi.

untuk backing vocal wanita pun saya cenderung tidak melakukan banyak perubahan, hanya melakukan seating frekuensi pada saat mixing dan membuat sedikit dimensi melalui penambahn reverb.

total track yang di rekam hampir sekitar 90 track, namun setalah dipilih pilih track yang terpakai pada process mixing hanya sekitar 64 track saja. tentu saja itu merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar nantinya.

setelah melalui banyak diskusi perdebatan akhirnya selesai juga tahap recording untuk lagu yang satu ini. tapi usaha tidak selesai disini. pengerjaan mixing merupakan proses yang lebih keras lagi (tunggu waktu untuk ditulis yah…)

mungkin secara gambaran besar seperti itulah pengalaman yang bisa saya tulis untuk saat ini tentang lagu irish girl dari the trees and the wild. mungkin nantinya saya akan akan menulis juga proses mixing dan treatment selanjutnya dalam kesempatan lain.

saya mengerjakan proyek ini bisa dibilang hanya menggunakan sarana yang sederhana. baik ruangan, pre-amp, microphone maupun console DAW saya tidak menggunakan barang-barang yang berkualitas super. namun bukan berarti itu tidak bisa menjadikan sebuah hasil yang cukup bagus. begitu pula dengan rekan-rekan semua, selama kita mampu memkasimalkan dan melakukan pekerjaan dengan teliti mungkin hasil yang didapatkan bisa mendekati hasil rekaman dengan peralatan yang canggih.🙂 dan yang terpenting penikmat lagu merasakan esensi yang coba disampaikan oleh pemusik melalui rangkaian nada yang direkam dalam sebuah lagu. itu saja.

dalam praktek pengerjaan waktu yang saya habiskan banyak lebih kepada check sound dan melakukan penempatan mic sesuai dengan suara yang di harapkan. terkadang itu membuat studio terlihat seperti sebuah kapal pecah yang berserakan kabel, mic dan instrument. tapi mungkin itulah yang harus dilakukan untuk sebuah karya, terutama jika anda memiliki waktu yang cukup banyak :p dan saya menikmati itu semua. walau terkadang membuat mood menjadi sedikit merasa lelah karena harus terus melakukan bongkar pasang, tapi setidaknya ini bisa menjadi senjata utama anda dalam mengatasi semua keterbatasan. tapi di lagu ini menjadi sebuah bukti bahwa sebuah kerjasama tim akan menjadi sebuah senjata lebih untuk menembuat sebuah perbedaan. saya menyarankan kepada engineer atau operator muda harus bisa lebih memposisikan diri untuk bekerja sama dengan client dan jangan selalu terpaku pada sebuah default work system karena itu tidak akan membuat kita beranjak kemanapun.

ini adalah hasil dari sebuah band beserta tim yang terlibat yang mampu membuat eksistensi mereka di dunia musik indonesia terutama penggemar musik indie yang berawal dari sebuah kesederhanaan dan keterbatasan. mungkin saya cukup beruntung bisa bekerja dalam tim ini.

sederhana dengan hasil maksimal  (berlebihankah?)

jika ingin mendengar rekan-rekan dapat mencari album the trees and the wild : rasuk di toko musik terdekat atau via http://www.myspace.com/thetreesandthewild (pre-mixing) dan stop free download. :p

salam, sekian untuk saat ini, senoga ini bukan menjadi kali terakhir saya merekam dan membagi pengalaman dengan semua tentang proses kerja bersama the trees and the wild dari bekasi ini. jika di beri kesempatan saya akan membuat sebuah journal tentang project ini lebih lanjut.

gear summary:

DAW Console : intel pentium quad core 2.6 ghz with 2 gb ram and nuendo 2.0. krk rokit 6 monitor speaker.

Microphones : akg d-112, shure sm-57, sennheiser e604, samson c01 (condenser), samson q01, behringer b-1 (condenser), shure sm-81 (condenser), rode k2

pre-amp : focusrite trakmaster, behringer ultragain, mackie onyx 1604

instruments : mapex pro m series, pearl stage custom, hughes and kettner bass kick 15, tech 21 combo, fender stratocaster american standar, fender bass marcus miller, alvarez acoustic, cort acoustic

wiring : canare, nuetrik, palnet waves

accessories: ds-25 headphone, akg k-66 headphone, akg k-55 headphone.

thanks to : vikis studio, tiga negeri, bog knop, dolphin daw, chandracom, dimas (for photo use) remedy waloni, iga massardi, andra kurniawan, teguh wicaksono, hertri nur pamungkas,  indra jaya, purata atmaja, dedi jebros

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: