Morfem : Album Baru

12 Oct

Morfem : Sebuah Album Baru

Kira-kira pertengahan 2011 saya diajak oleh seorang teman untuk menjadi operator di FOH disebuah festival rock di Senayan, Jakarta. Sebelumnya beberapa minggu sebelumnya saya sudah melihat band itu tampil disebuah acara di bilangan selatan Jakarta. Pada kesempatan itu saya merasakan suasana liar dan penuh energi di setiap lagu yang mereka tampilkan. Dan saya tidak mensiasiakan kesempatan untuk menjadi operator FOH bagi mereka ketika kesempatan itu datang.

Ketika check sound, datanglah seseorang untuk mendengarkan bagaimana hasil dari keseluruhan mixing di FOH, lalu sedikit berbincang dan kami saling berkenalan, mungkin lebih tepat saya yang memperkenalkan diri karena saya sudah mengenal dia diberbagai media selama saya berkecimpung didunia audio.

Sampai kesebuah kesempatan ternyata seseorang merekomendasikan hasil kerja saya pada orang tersebut, kami bertemu secara langsung untuk membahas sebuah rencana dan program untuk membuat sebuah album. Dan tidak butuh waktu lama untuk memulai project bersama Jimi, Pandu, Freddy dan Bram yang pada akhirnya digantikan oleh Yanu.

Project album ini keseleuruhan dikerjakan di Almos Studio Kalibata, sejujurnya saya cukup merasa tertantang saat itu karena banyak sekali detail suara yang coba digambarkan oleh Morfem untuk album terbaru mereka, diskusi demi diskusi harus dilalui karena ada sedikit ekspektasi untuk sesuatu yang berbeda di album ini. Terlebih lagi ini jenis musik yang saya baru pertama kali untuk menangani secara langsung.

Ketika guide selesai, kami mulai unuk take drum. Dengan memakai total 12 channel untuk track drum. Kami melakukan beberapa percobaan untuk mendapatkan hasil yang ingin kami harapkan. Seperti membuka kulit luar dari bass drum 22 inch di almos untuk menghasilkan suara drum yang lebih “jorok” tapi tetap bertenaga untuk sebuah lagu rock bertempo cukup tinggi (umumnya drum seperti itu cocok untuk untuk lagu bertempo rendah karena attack dari bass drum cenderung  lambat, akibatnya saya cukup lama untuk mencari posisi mic yang sesuai dan melakukan sedikit EQ di pre-amp untuk mendapatkan attack bass drum yang baik). Untuk snare saya melakukan miking dgn Sennheiser e906 untuk mendapatkan suara yang lebih mid low dan mengurangi bocoran suara hi-hat sehingga suara lebih sedikit, karena freddy cenderung lebih agresif dalam memainkan hi-hatnya. Sayapun melakukan kompresi dgn high attack dan medium release dengan ratio 3,5 : 1.Dengan memaksimalkan mic room melalui Neumann TLM, saya mendapatkan kesan “kotor” dari sound drum. Ini yang membuat suara drum terdengar lebih bernafas.

Awalnya bass yang direkam adalah bass dry agak sedikit twangy sampai ketika mendekati akhir project hampir seluruh bass kami rubah dengan menggunakan Ampeg SVT 4 Pro sebagai head-amp dengan menggunakan sedikit Fuzz efek. Dan ternyata suara bass seperti ini membuat musik menjadi lebih penuh karena bass mampu mengisi kekosongan dengan fuzz yang kasar sehingga suara gitar tidak terlalu bising pada proses mixing lagu nantinya.

Dengan melakukan sedikit cut frekuensi di 160hz-400hz suara bass terdengar gemuk dengan lebih mengedepankan frekuensi rendah sebagai sumber tenaga dan mid-high sebagai attack bass dan warna kasar atau kotor dari suara bass yang menjadi ciri dari Morfem. Sedikit EQ di frekuensi 3khz membuat tone efek fuzz menjadi sedikit menonjol. Kami menggunakan Direct Out dari Ampeg SVT dan miking dengan AKG D-112 pada cabinet untuk merekam suara bass ini.

Pengambilan suara gitar adalah sesuatu hal yang cukup tricky, karena harus terdengar kasar, bertenaga namun nada yang dimainkan harus juga terdengar sanga jelas. Awalnya kami memutuskan untuk menggunakan 2 mic untuk setiap pengambilan suara, namun setalah berbagai macam percobaan akhirnya kami mengambil cukup dengan 1 mic saja untuk tiap pengisiaan gitar, dimana basic rhythm gitar nanti akan di layer dengan menggunakan beberapa gitar dan efek yang berbeda sehingga suara yang dapat dihasilkan secara keseluruhan terdengar loud and proud.

Kami menggunakan amp Orange rockverb dengan 4×10 cabinet sebagai sumber suara yang diterjemahkan melalui Sennheiser e906 sebagai untuk mengambil suara. Kami memilih speaker kanan atas yang kami miking dan menempakan mic sedikit kekanan dari tweeter speaker agar suara yang dihasilkan tidak terlalu besar frekuensi high nya, sesuai dengan frekuensi response dari mic sennheiser e906 (untuk catatan bahwa sennheiser e906 akan menghasilkan suara cenderung high jika di tempatkan di sisi kiri dari tweeter speaker dan suara agak sedikit high jika ditempatkan di sisi kanan).

Tidak lupa saya memasang compressor saat take gitar hal ini saya lakukan untuk menjaga power agar selalu terjaga dengan baik dan tidak peak saat sang gitaris melakukan scratch gitar ataupun permainan urakan lainnya (in postive way off course).

Dengan menggunakan beberapa gitar tapi masih dengan suara dasar beraroma fuzz, kami mencoba menghasilkan suara gitar yang padat. Satu gitar di tempatkan di kiri, satu gitar dikanan dan satu lagi berada di tengah. Saya mencoba agar tidak terjadi benturan phase suara dengan melakukan sedikit EQ dari amplifier agar suara dari tiap gitar tidak terlalu serupa. Hal ini sangat sulit mengingat Pandu si pemain gitar, harus berupaya untuk melakukan beberapa take untuk sebuah lagu baik itu basic rhythm maupun untuk fill.

Jimi sang vocalist cenderung mempunyai tekanan suara rendah disaat bernyanyi dengan intensitas normal, tapi sangat besar saat melakukan shout (teriakan) sehingga jarak antara mic dengan bibir penyanyi harus terjaga dengan konstan. Selain itu saya harus mengambil gain cukup besar dan melakukan kompresi agar pada saat beliau berteriak tetap pada level suara yang optimum, pada akhirnya gain keseluruhan suara vocal dapat terjaga dengan konstan dan mampu berada di posisi frekuensi dan level yang pas dan menyatu dengan instrument lain.

Berikut ini adalah channel list untuk instrument yang kami gunakan selama recording yang juga disertai dengan microphone yang digunakan.

  1. Kick In ( AKG D-112 )
  2. Kick Out ( AKG D-40 )
  3. Snare Top ( Sennheiser e906 )
  4. Snare Botom ( Shure SM57 )
  5. Hi-Hat ( Shure SM81 )
  6. Tom ( AKG D-40 )
  7. Floor ( AKG D-40 )
  8. Ride ( Shure SM81 )
  9. Overhead ( AKG C-1000 )
  10. Overhead ( AKG C-1000 )
  11. Room 1 ( Neumann TLM )
  12. Room 2 ( Sennheiser e906 )
  13. Bass Direct Out Ampeg SVT 4 Pro
  14. Bass Mic ( AKG D-112 )
  15. Guitar Mic for Orange ( Sennheiser e906 )
  16. Vocals ( Neumann TLM )

Proccessor :

  1. Presonus Studio Live 16.4.2
  2. TC Electonic Finalizer Express
  3. Portico 5012 Pre Amp
  4. Chameleon Labs Compressor 7802 dn 7720
  5. ART Voice Channel

Pada proses mixing saya tidak banyak melakukan proses treatment post production, karena kami menganggap suara tiap instrument sudah berada pada level yang kami harapkan. Saya hanya melakukan sedikit kompresi di Kick, Snare dan Vocal. Saya juga memberikan efek vitalizer untuk memberikan sedikit tone dan tenaga pada vocal agar mampu terdengar dengan baik tapi juga tidak melebihi instrument lain. Proses mixing sebenarnya berjalan cukup lancar dan cepat. Hanya sedikit terjadi perubahan ketika kami harus merubah suara bass pada pertengahan proses.

Kecenderungan yang saya lakukan adalah menjaga suara keseluruhan dari lagu untuk tetap berisik dan terasa kasar tanpa harus membuat telinga pendengar cepat lelah. Kami harus menghabiskan hampir 30 jam di ruang mixing untuk mendapatkan porsi mixing yang sesuaidari sudut pandang musisi dan engineer. Saya juga harus berhati-hati dengan suara gitar yang mengandung fuzz karena jika tidak di racik dengan teliti kemungkinan akan terdengar seperti out of phase dan merusak lagu secara keseluruhan.

Melakukan summing di frekuensi rendah agar membuat lagu tetap bertenaga dengan menggunakan plug-ins Rbass sangat membantu untuk menambah energi terutama yang berasal dari pukulan drum.

Project ini berjalan dengan menyenangkan karena kita bisa saling berbagai satu sama lain untuk menghasilkan sebuah karya. Kami mencoba membatasi dan juga mengkreasi dengan baik agar memenuhi harapan dari sisi musisi maupun sisi engineer dan tentu juga kam harapkan oleh pendengar. Saat istirahat di warteg sebelah menjadi saat untuk berbagi cerita dan harapan di masa yang akan datang.

Silakan tunggu album Morfem yang telah kami kerjakan sejak October 2011 lalu. selamat mendengarkan.

 

Thanks untuk Jimi, Pandu, Freddy dan Yanu yang sudah mempercayakan saya untuk bekerja sama dalam project ini.

Tidak lupa kepada Moko, Yumir dan Andi dari brotherland / big knob yang sudah meminjamkan Chameleon Labs dan Portico demo nya yang sangat membantu dalam beberapa proses rekaman.

 

AEA R92 Ribbon Mic : Hangat dan Berdimensi

1 Jan

suatu ketika seorang rekan saya menawarkan saya untuk mencoba beberapa jenis microphone yangmenjadi koleksinya. dan tidak lama setelah itu, seorang rekan saya yang lain ingin melakukan workshop dan sound experiment guitar di studio. pada akhirnya saya memutuskan untuk melakukan kedua kegiatan tersebut di hari yang sama.

rekan saya yang bernama iga massardi datang membawa sebuah guitar telecaster miliknya. dan yumir membawa beberapa microphone salah satunya adalah AEA-R92 ribbon microphon

e. tanpa banyak bertanya lagi saya langsung melakukan persiapan dengan dengan memasangkan microphone tersebut di depan cabinet mesa yang sudah terpasang sebelumnya di studio. untuk uji coba ini sang pemain gitar memutuskan menggunakan head orang rockverb 100 watt.

untuk pre-amp microphone saya langsung menggunakan presonus studiolive 16.4.2 yang terpasang di studio. saya juga memasang 2 buah microphone lain sebagai pembanding yaitu sennheiser e906 (pernah dibahas sebelumnya) dan heil PR 30 (akan saya bahas di post yang lain). kenapa saya memasang juga mic lain? karena setiap mic itu mempunyai kemampuan menterjemahkan suara sendiri. saya dapat menjadikan kemampuan dari masing-masing mic sebagai referensi kebutuhan jenis suara yang diinginkan oleh kita sebagai sound engineer maupun musisi nya.

saya melakukan uji coba di ruangan berukuran 2,5m x 2,5m yang biasa digunakan untuk take vocal dan instrument lain selain drum.

ketika suara gitar mulai dimainkan (dengan clean channel dari amp), saya langsung bisa merasakan sebuah suara gitar yang terdengar sangat detail dari tiap senar yang beresonansi. frekuensi mid dan mid high yang biasa terdengar agak menggangu dari suara gitar listrik pada umumnya terdengar menjadi lebih hangat. defenisi hangat menurut saya dalam konteks ini adalah suara terdengar sangat jelas dan juga solid tanpa membuat telinga saya tertusuk dan cepat lelah yang biasa dihasilkan oleh suara gitar dan mic lainnya pada umumnya.

ketika bermain strumming gitar dengan tempo tinggi sekalipun, saya sama sekali tidak merasakan adanya perubahan tingkat kejernihan suara yang di tangkap. terlebih lagi ketika bermain dengan cara single note, selain hangat dan juga detail, saya juga dapat merasakan ada natural reverb ruangan yang mampu di tangkap oleh microphone in, terutama di frekuensi high di atas 5k. tipis memang terdengar di telinga, namun ini membuat saya merasakan bahwa mic ini mempu memberikan kesan dimensi suara ruangan pada setiap suara yang ditangkap. mungkin memang pada umumnya struktur head dari ribbon mic memang di desain untuk hal seperti itu. tapi secara keseluruhan saya sangat terkesan dengan tingkat kejernihan dan detail suara yang di hasilkan.

saat berganti menggunakan dirty channel dari head orang (distorsi), pada awalnya saya merasa kurang puas dengan komposisi suara dan frekuensi yang ditangkap, akibat terlalu detail. semua frekuensi menjadi lebih mudah ditangkap oleh mic ini, dan akibatnya malah menjadi lebih kasar. tapi setelah saya memundurkan kurang lebih 3cm dari posisi semula, suara gitar distorsi menjadi terdengar sangat baik. suara mengganggu di mid-high menjadi terdengar jauh lebih halus dan suara pantulan dari dinding ruangan secara keseluruhan juga menjadi lebih terdengar, dan lagi-lagi seakan memberikan dimensi pada suara gitar sacara natural.

saya juga sempat menggabungkan  r-92 dengan heil pr-30 dan sennheisser e906. dan menurut saya perpaduan dengan mic lain juga akan memberikan solusi yang baik sesuai dengan jenis amplifier gitar dan sound yang diharapkan.  jika untuk mendapatkan sound gitar yang halus dan hangat mungkin r-92 sudah cukup sebagai primary mic untuk recording anda. tapi jika ingin sedikit lebih kasar dan bertenaga heil pr-30 dan sennheisser e906 dapat anda jadikan primary mic dengan r-92 sebagai secondary untuk memberikan dimensi dari natural reverb ruangan yang halus. ini tentu saja hanya pendapat dari saya pada saat melakukan ujicoba.

saya merasa aea r-92 juga cocok untuk digunakan ketika melakukan recording sesi akustik seperti gitar akustik maupun string section. dan menurut yumir r-92 digunakan untuk sesi rekaman drum baik itu untuk menangkap room tone maupun untuk cymbal dan overhead.

pada akhirnya memang ribbon mic membuat suara jauh lebih halus. saya tidak terlalu paham tentang masalah teknis dan struktur dari mic r-92 tersebut. namun, dari kasat telinga

saya suara yang dihasilkan itu sangatlah hangat, jernih dan tidak membuat telinga cepat lelah karena phase suara yang tidak baik maupun lompatan-lompatan frekuensi tertentu yang juga menggangu. saya tidak menggunakan fitur EQ maupun compressor dalam ujicoba ini. namun suaranya sudah sangat matang dan siap untuk didengarkan.

silahkan anda mencoba dengan mata dan telinga anda sendiri, mungkin anda baru percaya tentang apa yang telah saya alami beberapa waktu lalu. jika mungkin saya akan menyertakan sample sound dalam beberapa waktu kedepan.

terima kasih untuk iga massardi, moko, yumir dan andi yang sudah meminjamkan peralatan dan juga meluangkan waktu untuk melakukan ujicoba ini bersama-sama

barlian yoga

Portico 5017 : Bright and Solid Sound or for Investement

5 Sep

ini adalah sebuah pre-amp sederhana buatan rupert neve. nama besar rupert neve seperti menjadi jaminan mutu dari produk satu ini.
saya mencoba portico 5017 pertama kali untuk mengambil suara vocal menggunakan microphone condenser neumann tlm 102. saya merasakan suara yang diterjemahkan oleh 5017 sangat cemerlang. mungkin akan terdengar agak kasar ketika vocalist akan bernyanyi dengan suara yang lebih keras (scream) tapi tunggu sampai rekan-rekan mengaktifkan tombol silk yang ada di di sebelah mic gain. secara langsung anda akan langsung merasakan bahwa suara yang tadinya agak sedikit berdistorsi akibat besarnya tekanan suara yang masuk menjadi jauh lebih halus terutama di frekuensi high. suara akan menjadi jauh lebih “gemuk” seperti halnya suara yang biasa kita dengar dari pemusik dari amerika serikat pada saat kita mengaktifkan compressor 2:1. walaupun hanya 2:1 namun kesempurnaan 5017 dalam membaca attack release time signal yang masuk sama sekali tidak membuat suara terkesan menggelembung atau juga seperti tertekan sepersekian detik baru terasa hasil dari kompresi signal. walaupun dinamika signal vocal masuk naik turun (besar kecil) namun signal yang tergambar di daw maupun level selalu stabil pada sebuah titik dengan signal bersustain panjang sekalipun (release time akan disesuaikan secara otomatis).
selain untuk vocal saya mencoba pre-amp ber compressor ini juga untuk mengambil sampel gitar dan bass. saya menggunakan sennheiser e906 untuk sampel guitar menggunakan ampli mesa boogie dual rectifier.
pertama saya mengambil sampel dari mic dan seperti hal nya vocal suara yang di tangkap sangat baik terdengar gemuk tanpa harus memaksa amplifier berada di level tinggi. saya juga mengaktifkan phase sweep dan membuat suara gitar terdengar lebih in you phase (face). dan anda juga bisa melakukan blending signal mic dengan microphone sampai bentuk suara yang anda inginkan.
pengalaman suara serupa juga saya rasakan ketika mengambil sampel bass. padahal saya hanya mengambil suara direct dari bass namun, tanpa treatment suara bass itu sepertinya sudah langsung siap untuk masuk kedalam mixingan anda.
saya dapat mengatakan bahwa pre-amp ini menggunakan apa pun jenis signal dari instrument akan terdengar sangat “gemuk” seperti hal nya sound khas amerika. mungkin nama legendaris rupert neve bisa menjadi pegangan untuk sebuah kualitas.
5017 adalah sebuah kotak ajaib dimana dengan sedikit sentuhan anda bisa mendapatkan sebuah perbadaan (push the magic button and see what is happen and it is so good).
harga memang cukup lumayan namun sebuah investasi yang sangat berharga karena saya yakin anda akan mencintai product satu ini.
Satu hal lagi ini juga bisa menjadi sebuah senjata rahasia anda ketika berada di panggung. karena selain mudah di bawa, fungsi blend direct – mic bisa membuat suara gitar, bass, ataupun vocal (terutama yang berefek terdengar jauh lebih baik).

thanks buat moko (brotherland – bigknop) yang sudah mau meminjamkan alat “ajaib” ini dan yumir yang sudah mau bersusah payah berkunjung ke studio (*pinjem lagi yah kalo ada project rekaman :D ).

Salam.. selamat mencoba

barlian yoga. adalah seorang recording dan mixing engineer di home studio bernama almos di kalibata yang bermula sebagai audio hobbyist

the trees and the wild – irish girl : recording phase: sederhana

22 Aug

sekitar tahun 2008, saya terlibat dalam sebuah project bersama sebuah band bernama the trees and the wild. dan pada bulan oktober mereka akan mencoba merekam sebuah lagu untuk dimasukan dalam album mereka yang pada akhirnya bernama RASUK.

mungkin ini adalah salah satu dimana salah satu hasil kerja tim yang melibatkan saya di dalamnya pernah terdengarkan oleh banyak orang.

project tersebut dikerjakan di sebuah studio rumahan yang sangat sederhana berletak di daerah jatiasih bekasi yang bernama vikis studio dimana saya in-house dari tahun 2007 sampai 2010 lalu.

pengerjaan di mulai dengan salah seorang personil dari the trees and the wild (ttatw) remedy waloni (acoustic guitar, vocal, synth) mulai membuat guide dengan sebuah gitar akustik merek Alvarez. tak ada yang istimewa dari proses ini selain saya hanya men-direct gitar dari pick-up ke sebuah d.i bos behringer gain. dan merekam langsung kedalam sebuah PC-based DAW dengan echo audiofire 12 sebagai interface.

drum dan Perkusi

ritme dasar dari lagu ini terdiri dari drum dan beberapa perangkat perkusi seperti floor-tom section dan snare percussion. untuk drum saat itu hanya tersedia sebuah drum mapex pro-m series dengan 3 piece tom-rack dan 20″ floor-tom yang di mainkan oleh herti nur pamungkas (santa monica, whisper desire).

karena drum lebih ber-emphasis kepada bass drum maka kami melakukan tuning agak bass drum terdengar sangat baik namun tidak terlalu in your face. kami sedkit mengendurkan kulit drum, terutama di bagian dalam yang terkena beater drum. saya menggunakan mic akg D-112 untuk kick in dan shure sm-57 untuk berharap bisa mendapatkan ekstra suar klik dari beater pedal drum.

jika di perhatikan di dalam lagu ada suara tipis snare, namun itu di rekam secara terpisah. jadi ketika ritme dasar drum di rekam saya hanya mengambil suara dari kick (in dan out) dan overhead untuk cymbal saja.

pada bagian dari akhir lagu, terdapat banyak part yang mengandalkan suara perkusi. sebenarnya part ini di rekam setelah semua instrument lain masuk. dalam pengerjaan sebenarnya tak jauh berbeda dengan konsep rekaman live. yang perlu saya lakukan adalah mengatur posisi mic agar tidak terlalu banyak bocoran dari instrumen lain masuk kedalam channel suara yang di fokuskan.

untuk snare saya menggunakan shure sm-57, floor-tom section sebanyak 3 piece saya menggunakan mic sennheiser e604 yang memang diperuntukan bagi tom atau floor. saya juga merekam suara chime dan perkusi lainnya menggunakan sm-57,  samson c01 dan shure sm-81 untuk instumen ber-frekuensi tinggi. selain itu saya juga menempatkan rode K2 mic dan menjadikan sebagai mix berpolar pattern figure 8 dan saya tempatkan di tengah ruangan agar mendapatkan sedikit nuansa reverb keseluruhan dari keseluruhan seksi perkusi ini. pada akhirnya saya menggunakan 12 channel dari echo audiofire saya (semua channel terpakai). saya harus berhati-hati dalam mengangkat gain yang saya harapkan dan selalu melakukan penyesuaian pada setiap part dalam pengambilan perkusi ini. sampai terkadang saya harus bolak balik melihat ke mackie onyx console dan layar DAW saya untuk bisa mengontrol gain yang masuk dengan baik. butuh konsentrasi ekstra untuk hal ini, namun syukur semuanya bisa dilakukan dengan baik dan cepat. ada satu hal lagi yang sebenarnya merepotkan adalah melakukan setting monitoring di dalam ruang take akibat berisiknya suara yang dihasilakan dari percussion section ini. pada akhirnya membutuhkan 2 jam untuk melakukan set-up, sound check dan clear out tapi hanya membutuhan 15 menit untuk melakukan rekamannya. :)

gear talk : echo audiofire 12 yang saya gunakan sebagai audio interface ini sebenarnya merupakan salah satu produk kesukaan saya. input-output latency sangat baik walaupun cuma sampai sample rate 48k saja dan membutuhkan pre-amp, tapi ini merupakan produk yang sangat cocok untuk home recording. sayangnya tidak dilengkapi oleh ADAT connection sehingga tidak mungkin untuk di expand.

andra (bass)

setelah drum selesai akhirnya seperti biasa kita masuk kepada ritme dasar lagu berikutnya yaitu bass (standar lah). andra kurniawan (bass, acoustic gitar) menggunakan bass fender marcus miller berwarna kuning kecoklatan. saya melakukan pengambilan bass menggunakan 4 channel (ambisius… pada akhirnya hanya di pakai 2 channel saja) yaitu direct input via d.i box, amplifier direct output (hartke bass kick 15″), todong menggunakan akg d-112, dan shure sm-57 di tweeter speaker dari amplifier bass combo itu.

pada awal lagu iga massardi ( electric guitar, acoustic guitar) merasa suara bass yang hasilkan oleh gitar bass fender marcus miller itu terlalu panjang sustainnya dan terdengar sangat modern. setelah mencoba segala macam tipu muslihat melalui penggunaan compressor tambahan, equalizer dan lainnya akhirnya tercetus sebuah solusi jenius (berlebihan) dengan menggunakan sebuah “lap” yang biasa digunakan untuk membersihkan gitar yang diletakan di antara pick bass sehingga suara bass menjadi tanpa sustain. well, banyak jalan untuk mencapai roma pada akhirnya. :)

akustik gitar ( remedy, iga dan andra )

menggunakan dua buah akustik gitar nylon alvarez  (remedy) dan cort steel akustik gitar (andra dan iga) yang saya rekam menggunakan 3 buah microphone yaitu rode k2, shure sm-81 dan shure sm-57.

saya memposisikan mic condenser rode k2 kira-kira berjarak 20 cm dari sound hole dengan harapan saya bisa mendapatkan suara aksutik gitar yang ideal. ternyata saya itu sesuai dengan harapan saya.

dengan menggunakan pre-amp focusrite trakmaster yang sederhana saya merasakan suara gitar di dapatkan cukup solid. mungkin secara tidak sengaja karakter dari focusrite trakmaster yang sedikit kasar malah membuat tone dari gitar akustik menjadi nyata tanpa harus banyak melakukan treatment saat mixing nanti. selain itu trakmaster juga memilik filter dan cut frekuensi yang memudahkan anda membuang suara mendengung dari gitar akustik sampai ke 400hz dan kedalamannya juga bisa di sesuaikan. dengan adanya compressor sederhana dan dengan sebuah “squash” button memudahkan saya membuat suara gitar menjadi lebih “gemuk”. saya beruntung telah membeli pre-amp ini yang ternyata sangat cocok dengan project ini.

untuk shure sm-81 saya memposisikan dekat finger board dari gitar untuk berharap mendapatkan suara resonansi frekuensi yang sedikit high dan juga mendapatkan suara gesekan jari dengan senar saat melakukan perpindahan kunci gitar yang membuat suara terdengar sangat natural. sedangkan shure sm-57 saya letakan diantara neck gitar dan body untuk mencoba mendapatkan suara gitar dari sudut yang berbeda. walau pada tahap mixing hanya lebih mengutamakan suara dari rode k2 dan shure sm-81 saja. dan untuk mengatasi suara tepukan gitar (guitar clapping) saya harus menggunakan sebuah limiter nantinya agara suara tepukan tersebut tidak menyebabkan clip di main mix bus nantinya.

tips:  jangan lupa meletakan sebuah selimut atau bantal di kaki semua player pada saat take akustik, karena player cenderung menghentakkan kaki saat mencoba bermain dengan panduan metronome. dan gunakan earphoe monitor yang sangat kedap suara. beruntung pada saat itu saya telah menggunakan headphoe extreme isloation DS-25 (thanks for @big_knop dan @mokobigbro for importing this product) sehingga saya para player menjadi jauh lebih percaya diri dan nyaman dengan sistem monitor ini.

electric guitar (iga massardi)

untuk pengambilan gitar listrik saya mengandalkan 1 buah shure sm-57 dan 1 buah rode k2. hampir sama seperti gitar akustik saya menggunakan focusrite trakmaster untuk k2 dan pre-amp dari mackie onyx 1604 untuk shure-sm57. untuk shure sm-57 setelah berdiskusi dan melakukan beberapa percobaan akhir saya dan iga sepakat bahwa mic akan diposisikan sekitar sudut 60 derajat dengan jarak kurang lebih 10 cm dari pusat speaker Tech 21 15 inch combo. dan memberi jara dari speaker ke ampli sejauh 2 cm. hal ini dilakukan agar suara gitar lebih berkarakter di frekuensi low dan mid-high. walau nanti saya harus melakukan sedikit treatment pada saat seating frekuensi di tahap mixing.

sedangkan untuk rode k2 saya memposisikan sekitar 30 cm dari ampli sejajar denga posisi head speaker dengan merubah polar pattern menjadi figure 8 agar bisa mendapatkan kesan “roomy” dari suara gitar nantinya. saya tidak melakukan kompresi pada trakmaster pre-amp hanya melakukan low cut dan filter cut di frekuensi sekitar 200hz untuk mengantisipasi suara yang terlalu mendengung nantinya. ketika mixing saya menggunakan source dari mic ini sebagai wet source untuk tambahan efek seperti reverb, delay atau tremolo nantinya.

string section

lagu ini juga mengharuskan saya mengambil suara dari quartet string section yang terdiri dari (cello, 2 viloin dan viola). ini tahap yang sekali lagi cukup menyita banyak waktu untuk set-tp dan sound checking.

untuk cello saya menggunakan 2 microphone yaitu akg d-112 untuk menangkap suara berfrekuensi rendah dan shure sm-57 untuk mengambil suara mid dan high tipis yang di hasilkan dari cello.

sedangkan untuk violin dan viola saya masing-masing menggunakan shure sm-57 dan shure sm-81 sebagai microphone untuk mengambil suara. hal ini saya lakukan karena respond frekuensi di mid-high dari shure sm-57 dan sm-81 jauh lebih baik dari dari mic lain yang saya punya saat itu untuk mengambil suara mid-high dari string section. dan saya juga meneptakan sebuah rode k2 yang berpolar pattern fugure 8 untuk mendapatkan keseluruhan suara dari stering section tersebut dan 2 buah mic condenser behringer b-1 di sudut ruangan untuk mengambil suara ambient dari suasana ruangan saat itu.

yang paling sulit adalah memposisikan mic agar mampu mendapatkan sebuah suara yang diharapakan dari tiap-tiap instument dengan jelas tanpa harus terlalu banyak bocoran. sebenarnya bisa dilakukan rekaman satu persatu namun pertimbangan saat itu adalah atmosfer yang diharapkan akan menjadi kurang baik dan permainan seakan menjadi kurang bernyawa. oleh sebab itu saya harus memposisikan para pemain pada jarak dan sudut yang tepat. dan monitoring harus terorganisir dengan baik. karena sulitnya mengatur frekuensi dari masing-masing alat.

tips: membutuhkan kesabaran yang super ekstra dalam pengerjaan strings. pastikan mic ambient di posisi yang tepat atau waktu kita akan menjadi percuma jika hasil rekaman string ini hanya terdengar seperti suara midi via reason atau VST lainnya jika kita tidak merekam dengan tepat.

vocals (remedy waloni)

untuk take vocal saya kembali mengandalkan rode k2 condenser microphone dengam kembali menggunakan focusrite trakmaster. sedangkan untuk pop filter saya menggunakan shure ps-6. karena saya tidak mempunyai ruang vocal (vocal trap) saya mencoba memposisikan sedekat mungkin remedy dengan sudut ruangan agar suara yang dapatkan dapat terkumpul dan menjadi terdengar solid. gain yang saya ambil juga harus cukup besar karena remedy tidak mempunyai pita suara yang bisa menghasilkan suara cukup tegas ketika bernyanyi. namun saya harus menyalakan compressor ketika memasuki phase akhir dari lagu dimana vocalist akan cenderung lebih terbuka dalam bernyanyi.

untuk backing vocal wanita pun saya cenderung tidak melakukan banyak perubahan, hanya melakukan seating frekuensi pada saat mixing dan membuat sedikit dimensi melalui penambahn reverb.

total track yang di rekam hampir sekitar 90 track, namun setalah dipilih pilih track yang terpakai pada process mixing hanya sekitar 64 track saja. tentu saja itu merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar nantinya.

setelah melalui banyak diskusi perdebatan akhirnya selesai juga tahap recording untuk lagu yang satu ini. tapi usaha tidak selesai disini. pengerjaan mixing merupakan proses yang lebih keras lagi (tunggu waktu untuk ditulis yah…)

mungkin secara gambaran besar seperti itulah pengalaman yang bisa saya tulis untuk saat ini tentang lagu irish girl dari the trees and the wild. mungkin nantinya saya akan akan menulis juga proses mixing dan treatment selanjutnya dalam kesempatan lain.

saya mengerjakan proyek ini bisa dibilang hanya menggunakan sarana yang sederhana. baik ruangan, pre-amp, microphone maupun console DAW saya tidak menggunakan barang-barang yang berkualitas super. namun bukan berarti itu tidak bisa menjadikan sebuah hasil yang cukup bagus. begitu pula dengan rekan-rekan semua, selama kita mampu memkasimalkan dan melakukan pekerjaan dengan teliti mungkin hasil yang didapatkan bisa mendekati hasil rekaman dengan peralatan yang canggih. :) dan yang terpenting penikmat lagu merasakan esensi yang coba disampaikan oleh pemusik melalui rangkaian nada yang direkam dalam sebuah lagu. itu saja.

dalam praktek pengerjaan waktu yang saya habiskan banyak lebih kepada check sound dan melakukan penempatan mic sesuai dengan suara yang di harapkan. terkadang itu membuat studio terlihat seperti sebuah kapal pecah yang berserakan kabel, mic dan instrument. tapi mungkin itulah yang harus dilakukan untuk sebuah karya, terutama jika anda memiliki waktu yang cukup banyak :p dan saya menikmati itu semua. walau terkadang membuat mood menjadi sedikit merasa lelah karena harus terus melakukan bongkar pasang, tapi setidaknya ini bisa menjadi senjata utama anda dalam mengatasi semua keterbatasan. tapi di lagu ini menjadi sebuah bukti bahwa sebuah kerjasama tim akan menjadi sebuah senjata lebih untuk menembuat sebuah perbedaan. saya menyarankan kepada engineer atau operator muda harus bisa lebih memposisikan diri untuk bekerja sama dengan client dan jangan selalu terpaku pada sebuah default work system karena itu tidak akan membuat kita beranjak kemanapun.

ini adalah hasil dari sebuah band beserta tim yang terlibat yang mampu membuat eksistensi mereka di dunia musik indonesia terutama penggemar musik indie yang berawal dari sebuah kesederhanaan dan keterbatasan. mungkin saya cukup beruntung bisa bekerja dalam tim ini.

sederhana dengan hasil maksimal  (berlebihankah?)

jika ingin mendengar rekan-rekan dapat mencari album the trees and the wild : rasuk di toko musik terdekat atau via http://www.myspace.com/thetreesandthewild (pre-mixing) dan stop free download. :p

salam, sekian untuk saat ini, senoga ini bukan menjadi kali terakhir saya merekam dan membagi pengalaman dengan semua tentang proses kerja bersama the trees and the wild dari bekasi ini. jika di beri kesempatan saya akan membuat sebuah journal tentang project ini lebih lanjut.

gear summary:

DAW Console : intel pentium quad core 2.6 ghz with 2 gb ram and nuendo 2.0. krk rokit 6 monitor speaker.

Microphones : akg d-112, shure sm-57, sennheiser e604, samson c01 (condenser), samson q01, behringer b-1 (condenser), shure sm-81 (condenser), rode k2

pre-amp : focusrite trakmaster, behringer ultragain, mackie onyx 1604

instruments : mapex pro m series, pearl stage custom, hughes and kettner bass kick 15, tech 21 combo, fender stratocaster american standar, fender bass marcus miller, alvarez acoustic, cort acoustic

wiring : canare, nuetrik, palnet waves

accessories: ds-25 headphone, akg k-66 headphone, akg k-55 headphone.

thanks to : vikis studio, tiga negeri, bog knop, dolphin daw, chandracom, dimas (for photo use) remedy waloni, iga massardi, andra kurniawan, teguh wicaksono, hertri nur pamungkas,  indra jaya, purata atmaja, dedi jebros

sennheiser e906 : optimist for realistic price

20 Aug


sering saya merasa tidak puas dengan mic yang digunakan untuk “todong” sebuah amplifier terutama amplfier gitar. sampai paa suatu ketika teman saya memperkenalkan sebuah produk yang bernama sennheiser e906.

tanpa banyak bertanya saya langsung mencoba mic tersebut untuk keperluan penampilan live dari sebuah band. saat itu saya merasakan bahwa suara gitar yang biasa saya dengarkan secara ajaib berubah menjadi lebih solid dan warm tanpa mengurangi attack mid high dari suara gitar pada umumnya.

sebelumnya saya menggunakan mic yang sangat umum beredar di pasaran indonesia yaitu shure sm-57. hanya untuk mendapatkan suara gitar yang solid ketika recording saya harus menempatkan beberapa microphone yang sama di berbagai posisi berbeda. dan saya hampir sangat tidak mungkin untuk melakukan hal tersebut diatas panggung karena akan semakin banyak pula “bocoran” dari sumber suara lain masuk ke mic-mic tersebut. terutama jika bermain di panggung yang tata letak antar instrument saling berdekatan.

namun secara ajaib sennheiser e906 tersebut merubah semua. saya cukup hanya meletakan di dekat ampli dengan jarak sekitar 2 cm dari head speaker cabinet, maka suara yang saya terima ke monitor console maupun FOH speaker seperti tidak berbohong. apa yang saya dengar dari posisi penempatan amplifier itulah yang saya terima. saya terkesima.

mic yang mempunyai design polar pattern super cardioid sanggup mempertejemahkan permainan dari gitaris dengan baik kedalam console karena mempunyai transient respond sangat cepat.

mic ini juga mempunyai fitur yang sangat membantu untuk menyesuaikan dengan karakter suara gitar anda. di depan mic ada sebuah switch yang dapat anda pilih untuk menyesuaikan karakter EQ atau presence dari mic tersebut. jika anda melakukan boost untuk lebih high (menurut product sheet di frekuensi 4.2khz) untuk mendapatkankan suara yang lebih bright dan mempertajam attack seperti halnya suara gitar berdistorsi tinggi atau di cut untuk suara gitar yang jauh lebih hangat.

ada sebuah hal yang akhirnya saya sadari selama menggunakan mic tersebut selama ini ini berhubungan dengan sudut dari capturing  suara dari mic tersebut. mic ini adalah super cardioid yang memungkinkan anda mendapatkan suara dari belakang microphone anda walaupun respondnya tidak terlalu lebar namun itu yang menurut saya membuat mic ini terasa lebih solid. selain itu  sudut 90 derajat sampai 0 derajat dari sebalah kiri mic lebih mempunyai frequency respond lebih lebar dibandingkan sebelah 0 sampai dengan 90 derajat di sebelah kanan microphone. begitu juga dengan 90 sampai 180 derjat di sisi kiri maupun kanan dari mic head. hal ini dapat juga menjadi sebuah pertimbangan dalam penempatan posisi mic untuk mendapatkan seating frequency dasar yang anda harapkan dari suara guitar anda. anda dapat melihat diagram ini dengan pada product sheet dari sennheiser e906.

http://www.sennheiser.com

 

 

pada akhirnya saya merasa lebih percaya diri dengan suara gitar dari band yang saya bantu mixing ketika live semenjak menggunakan sennheiser e906 ini. dan tanpa banyak tanya sayapun memutuskan untuk membeli mic ini untuk keperluan recording di studio.

harga yang di tawarkan untuk sangat murah untuk kualitas yang bisa didapatkan dari penggunaan microphone ini. dengan harga kisaran 1,8-2 juta rupiah  anda bisa akan merasakan perbedaan dari suara gitar anda baik di panggung maupun di ruang studio. harga memang hampir dua kali lipat dari mic “todong” yang umum beredar di indonesia yaitu shure sm-57, tapi saya yakin ini jauh lebih baik hampir tiga kalinya (maaf jika berlebihan).

sekedar perbandingan suara shure sm-57 lebih thin dan cenderung mid-high nya ter boost agak berlebihan. atau anda dapat melakukan kombinasi mic lainnya untuk mendapatkan suara gitar yang baik. mic ini juga bisa digunakan untuk menangkap suara cymbal dan perkusi dengan lebih baik.

semoga saja banyak studio dan rental sound system yang akan mengenal produk ini di masa mendatang, sehingga kualitas audio dari pemusik di indonesia akan secara perlahan menjadi lebih baik dan terus berkembang.

sebelum anda membeli sebaiknya anda tetap untuk mencoba terlebih dahulu, karena ini adalah penilaian dari saya sendiri dan akan mungkin berbeda dengan orang ain atau anda sendiri. dan jika membeli tetaplah lakukan banyak penyesuaian terlebih dahulu dan seperti kata rekan saya moko, kenali “binatang” yang sedang anda pelihara untuk memaksimalkan penggunaannya berdasarkan karakter, kelemahan dan kelebihan mic tersebut. setiap produk mempunyai karakter yang berbeda walaupun mempunyai fitur dan fungsi yang sama.

sebelum lupa, hati-hati dengan frekuensi low-end dari respond mic ini, jika dalam kebutuhan live, terkadang saya harus melakukan fileter frekuensi di 60-180hz (cuma share) walau tergantung dari cara gitaris tersebut melakukan equalizing dari amplifier nya. :)

hati-hati juga dengan mounting microphone adapter nya, jgn terlalu sering untuk dilepas pasang, karena terlihat cukup riskan (sebenarnya bodinya sangat solid)

maju terus, tetap berkarya,

salam

ART Voice Channel : jangan berharap sebuah hal yang istimewa, tapi manfaatkanlah sebaik mungkin

15 Aug

Dengan harga yang dapat dikatakan “tidak terlalu” mahal ART Voice Channel sebenarnya dapat menjadi sebuah pilihan jika anda membutuhkan sebuah Microphone Pre-amp dengan fitur dynamic cukup banyak.

Voice Channel ini dapat dikatakan adalah sebuah channel strip yang umumnya digunakan untuk merekam vocal namun tidak menutup digunakan untuk merekam instrumen lain.

Kualitas suara dari pre-amp sebenarnya bisa dikatakan biasa saja malah seperti tidak sesuai dengan spesifikasi Signal to Noise Ratio yang mencapai 130 DB karena sangat cepat terjadi distorsi pada saat potentio gain di angkat sampai menunjukan posis di arah jam 1. namun fitur dynamic seperti compressor yang dilengkap dengan 4 Band Parametric EQ dapat membuat anda bisa berharap untuk mendapat sebuah tone yang baik selama anda tidak memaksakan gain pre-amp terlalu besar karena suara akan seperti terdengar terkompres atau berdistorsi. (sedikit saran anda pre-amp ini baik jika digunakan untuk mengambil suara vocal atau instrument yang menggunakan amplifier seperti gitar listrik atau bass). sebaiknya anda juga perlu memperhatikan impedance focus pada pre-amp karena ini akan membuat anda mendapatkan frekuensi yang diharapkan dengan memutar kenop potensio pada sebuah titik. dan selalu pastikan output level maksimal berada di 0 DB, percaya anda tidak akan ingin lebih dari itu.

parametric EQ berfungsi cukup baik, namun terbatas pada gain yang mudah terdistorsi. sedangkan untuk compressor bisa dikatakan baik tapi tidaklah istimewa karena ratio compressing tidak akan terasa sampai anda melakukan gauge ratio di level 3:1. Ratio 1,5:1 ataupun 2:1 hampir tidak ada bedanya. mungkin juga fungsi threshold yang kurang sensitif. well who knows?

namun tidaklah adil jika kita terlalu mendeskreditkan produk ini. pada tingkatan gain yang tepat, Voice Channel ini sangatlah membantu untuk mendapatkan hasil rekaman yang cukup baik. terutama dengan tersedianya banyak fungsi dari mulai compressor, gate/expander, de-esser sampai ke paramtric EQ. selain itu ketersediaan pilihan output balance dan unbalance ditambah dengan ADAT output pada sample rate 44.1khz dan 48 khz membuat alat ini juga dapat berperan sebagai expansion port bagi sistem DAW anda terlebih lagi jika anda memiliki interface dengan koneksi ADAT Input.

untunglah alat ini ckup meudah untuk dimonitor penggunaannya karena banyak indikator untuk melihat gain, gain reduction, output

pada akhirnya dengan pre amp ini anda tidak perlu memaksa untuk mendapatkan gain yang besar dan bertenaga dari voice channel ini. lakukan konversi saat merekam dengan gain secukupnya dan manfaatkanlah fitur yang luas dari alat ini.  dengan sedikit pengenalan karakter mungkin anda bisa jauh memaksimalkan alat ini. (saya akan mengambil suara guitar dan vocal berkarakter vintage dengan pre-amp ini).

saya melakukan beberapa eksperimen dengan Voice Channel ini menggunakan microphone Neumann TLM-102, Sennheiser e906, Sennheiser e306, Shure SM-57 dan AKG C-1000. jadi ini bersifat subjektif.

namun dengan harga yang cukup murah untuk sebuah channel strip hasil yang didapatkan dapat dikatakn cukup bagus selama anda bisa mengkondisikan dan melakukan adjustment. oleh sebab tak di sarankan untuk pemula.

ingat kenalilah peralatan anda, pasti anda akan mendapatkan hasil yang maksimal.

salam.

TC Electronics Works Native Bundle : Simple but Fantastic

12 Aug

ya… berjumpa lagi dengan omongan kosong saya.. (mudah-mudahan tidak kosong)

saya telah menggunakan TC Electronics Works Native Bundle (kita singkat jadi TC Works saja yah ) VST Plug ins sejak tahun 2008. Pada awalnya saya merasa kurang yakin dengan produk ini, karena waktu itu saya lebih tergila-gila pada VST Plug-in keluar Waves yang berseri Diamond Bundle.

tapi tak kenal maka tak sayang, pada akhirnya saya sangat mencintai produk keluaran TC ini. dan saya sering menggunakannya sebagai senjata utama saya jika melakukan mastering lagu secara digital.

Sebenarnya TC Works ini adalah digital signature dari gear-gear keluaran TC Electronics maka tak heran jika suara yang di hasilkan hampir serupa dengan outboard rack analognya. dan pemakaiannya sangatlah user friendly alias mudah. pada produk TC ini user tidak harus di pusingkan dengan angka-angka yang sangat memusingkan dalam melakukan set-up sebuah plug-in seperti reverb ataupun limiternya karena seperti khas dari produk-produk TC semuanya lebih instant dalam penggunaannya.

walaupun terkadang kurang mendetail, tapi hasilnya sama sekali tidak mengecewakan, terutama dalam melakukan proses mastering lagu sebuah album. karena anda dapat dengan mudah merasakan perbedaan hanya dengan memutar sebuah kenop ataupun tombol walau hanya sedikit saja.

tapi hati-hati, karena jika terlalu berlebihan maka akan dengan mudah pula merusak hasil mixing atau mastering anda. bagai pedang bermata dua dapat dengan mudah membuat lebih bagus tapi dapat dapat lebih mudah membuat lebih rusak. tapi anda tak perlu banyak khawatir karena dengan pemakaian yang mudah, hasilnya pasti akan jauh lebih bagus dan dengan proses yang lebih cepat. apalagi factory preset nya juga sudah sangat terbuat dengan baik, sesuai dengan kebutuhan yang anda harapkan. :)

ada beberapa effect maupun signal processor dalam TC Works ini, dan akan saya sebutkan di bawah ini beserta fungsi dan kemampuan berdasarkan observasi saya selama ini. #yess

filtrator

plug in untuk step filter effect yang sangat berguna untuk merubah suara seperti berada dalam sebuah kondisi tertentu seperti dalam air, atau yang berubah resonansi maupun terdistorsi. saya sering menggunakannya utnuk effect vocal ataupun merubah suara drum menjadi lebih “electronic” dan berdistrosi.

Limiter

jelas limiter lebih digunakan kepada saat mastering process untuk mengangkat gain lagu secara keseluruhan dan membuang over power dari pukulan drum sehingga akan lebih stabil dan RMS dari keseluruhan lagu lebih kuat. hati-hati dengan over limiting. selain itu ada fitur histogram dimana kita bisa langsung melakukan analisa (bila kuping sedang tidak sehat) seberapa banyak DB yang terkena limit dan seberapa optimum lagu instrument secara keseluruhan dapat terdengar dengan baik.

fitur automatic make up gain juga membuat lagu selalu “diusahakan” berada pada level yang aman. selain itu limiter ini juga mampu mengkonversi data up to sample rate 96ktz dengan maksimal 32 bit floating data.

Native Reverb Plus

inilah dia salah satu VST Plug-In yang sering saya gunakan, malah saya bisa dibilang saya hanya menggunakan ini untuk project saya bersama the trees and the wild dan experiences brothers.

simple namun mematikan. ya, anda dapat dengan mudah merasakan banyak karakter dari reverb dengan plug-in ini tanpa harus bersusah payah menghitung panjang reverb dengan matematika dasar. fitur bergambar memudahkan anda untuk berfantasi dengan dimensi reverb yang anda inginkan. good effect dan very user friendly. walaupun fitur detailnya masih kalah dengan VST dari lexicon ataupun RVerb Waves, namun menurut pengalaman saya ini adalah reverb yang paling natural suaranya.

Compressor dan De Esser

yah ini pun salah satu fitur paling ciamik dari TC Works. Mengingatkan saya pada TC Finallizer yang sudah banyak beredar. jauh lebih baik dari compressor Waves R-Comp VST Plug-In menurut saya. walaupun hasil compress signalnya agak sedikit kasar, tapi anda bisa mendapatkan sebuah power yang sangat baik dan di compress dengan baik dengan ini. ada fitur De Esser tapi ini tidak terlalu special. yang paling terlihat adalah ratio yang anda inginkan dalam meng compress begitu terasa, sehingga dengan muda anda menyingkirkan ledakan-ledakan signal yang membuat lagu anda akan cepat menyentuh dinding clip. dan membuat lagu anda  terasa lebih kuat. tapi berhati-hati karena mudah sekali over compress akibat threshold slider itu sangat sensitif dalam melakukan compress. dengan penggunaan yang cermat dan hati-hati, pasti anda dapat merasakan perbedaan dengan compressor dari VST plug-in lainnya

Parametric EQ

tidak berbeda dengan paramteric EQ lain, namun fitur X-Y diagram di sudut kanan atas memudah anda membentuk sebuah tone dari lagu maupun instrument tanpa harus memutar banyak kenop ataupun tombol. hal ini sebenarnya lebih berguna pada saat mastering.

selain itu fitur link EQ maupun unlink dapat di pakai di plug-in ini hal ini bermanfaat jika anda ingin merubah suatu frekuensi hanya pada satu sisi kanan atau kiri saja

Graphic EQ

bisa untuk 28 band, 14 band maupun 7 band frekuensi. hampir serupa kualitasnya denganAPI 560 vst plug-in. tapi ini adalah salah satu fitur yang paling sulit untuk digunakan. jika asli dari EQ analog rack graphic EQ ini adalah touch screen untuk menaikan maupun menurunkan frekuensinya. karena menggunakan mouse terasa menjadi lebih repot saja.

ya saya rasa jika anda menggunakan produk ini hasil mixing anda akan menjadi lebih baik, terutama untuk anda yang baru belajar untuk mixing maupun mastering. tapi ini adalah juga product professional recording maupun broadcast.

hanya sayang ini adalah product discontinued sehingga agak sulit untuk mendapatkan barunya, tapi anda bisa melihat di web-web yang menjual VST.

selamat mencoba teman-teman.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.